Rupa Sampul Elok

Tiada yang penting melainkan ini. Tiada yang penting lagi melainkan ini.

Aku melihat satu kejora manis. Penuh arti namun hanya setitik. Tak ada yang salah darinya dimana saat bulan berganti fase, ia tetap bersinar menyaingi. Apa boleh buat, pancarkan saja seluruh cahayamu. Kejora manis.

Aku menyebutnya dengan gumpalan awan lembut. Terlihat secara fisik, tak tampak nyatanya. Berusaha melindungi kami dari sorotan sang-penguasa-cahaya. Segala yang dilakukan membuat hujan nyaman turun dengan riang tanpa menghitung kawan-kawannya. Ya, aku tentu menyukainya.

Aku bertemu dengan pangeran. Pangeran dengan pedang seakan ia akan memenggal seluruh leher manusia yang dihadapannya. Tegap gagah tangguh terlihat jelas. Berusaha menahan ribuan duri, serangan sengit, sekalipun tornado. Siapa pun pasti ingin merengkuhnya sebagai sandaran. Namun hanya sosok putri-lah yang memenangkan posisinya. Miris.

Dan aku, tertegun diam berhadapan yang aku sebut kamu. Tanpa ragu ku katakan kamu pemeran utama dalam lembar judul buku ke-18. Tentu karanganku. Ku pikir, akan lebih menarik buku ini apabila ku tulis kisah pangeran bak ksatria bagai awan rupa kejora. Ini indah bukan? Aku menyukainya. Ini adalah bagian awal cerita.

Terimakasih, Echa. Telah bersedia menjadi bagian dari judul buku yang akan disimpan sebagai catatan sejarah. Terimakasih karena aku menyukainya. Terimakasih atas segala kerepotan yang berakhir indah. Dan terimakasih, telah menjadikanku sebagai putri bak hujan nan bersinar. If you love me, what should I do? Yep, I do love you :)

Jika aku rindu sosok orang yang jelas tak patut di rindu, aku harus bagaimana?

Omong kosong.
Merasa sudah tidak punya senjata manis berupa rayuan? Merasa sudah saatnya berbisu? Merasa tidak tahu cara apa lagi untuk dilakukan agar tampak manis? Merasa semuanya telah cukup lalu kau cukupkan? Bualan lampauku.

Kesal. Ya. Aku kesal namun tak berarti aku harus menggertak. Terasa peraduan batin ini mendesak agar aku menaruh segala rasa pada ujung jemari kaki. Tapi apa? Nyatanya aku tidak bisa, lalu bagaimana? Aku harus kembali bersandiwara lagikah? Tidak bosankah kalian berhadapan dengan ribuan pembohong di luar sana hingga meminta aku untuk menjadi pembohong? Lelah tak terlampiaskan.

Jika saat ini aku berkata aku rindu kamu bagaimana? Yang dahulu.

Berjalan nan Tiada Guna.

Untuk apa aku berdiri di sini?

Di tempat lain, yang seakan-akan mengikat segala raga. Di tempat lain, yang terlihat akan melemparkan ribuan duri kemudian. Di tempat lain, yang mungkin membiarkan aku terseok-seok hingga terjatuh pada ubin-ubinnya yang dingin.

Jika mampu berpikir keras, tiadakah yang dapat dilakukan selain meratap? Memaksa segenap yang ada untuk mengemis tanpa pandang? Kasihan.

Mudahnya bualan yang keluar dari inderamu. Tak ku hirau. Awalnya memang aku sadar meraihmu adalah hal tersulit. Namun apa lagi? Berlari tanpa melihat ke belakang, berlaga semacam pahlawan, bertingkah seperti kamu adalah raja. Sadar, hey! Bahkan aku pun mampu untuk kembali berdiri tegap setegap awal cerita.

Dan akan aku catat cerita singkat ini akan segala rasa menyesalmu yang dengan sengaja menjatuhkanku ke jurang yang landai.

Sadar. Hal paling menyakitkan adalah melihat mata kedua orangtua yang mengetahui sesuatu-yang-tak-selayaknya-mereka-ketahui.  Terlebih jika mengetahui bahwa mereka-lah yang berusaha menyembunyikan segalanya seakan-akan keadaan baik-baik saja tepat di depan penglihatan kita.

Dan pada saat yang sama, sadar pula bahwa apa yang mereka katakan secara tidak langsung merupakan sumber energi baru untuk bangun dan kembali berdiri tegak. Berjalan bahkan lari hingga terseok-seok seakan tak mengenal lelah.

Aku, akan berjuang dan akan memperjuangkan segalanya untuk memetik buah yang telah disediakan untukku.

Aku, akan memperjuangkan segalanya untuk melihat binar mata kebanggaan dan kebahagiaanmu, Mah, Pah.

Seperti inikah bangganya?

Memiliki apa yang telah kita miliki akan menjadi suatu kewajiban untuk menjaganya agar tetap utuh seperti sebelum kita memilikinya. Membuka bingkisan, membaca segala karakteristik dan peraturan, serta tak luput untuk mempersoleknya kemudian.

Lain pemilik, lain yang dimiliki, lain pula perlakuan.

Memang tak selamanya baik di rupa baik di isi. Sebagian kaum kami memaksa keduanya tampak, mungkin kaum lawan begitu. Sebagian berhasil meraupnya secara sempurna, mungkin lainnya tak begitu.

Hei, siapa pun kamu yang berusaha fokus menatap layar di depanmu, membaca sekumpulan kata-kata yang mengambang ini, menurutmu, apakah aku salah satu yang berhasil dan beruntung dari sekian kemungkinan yang ada?

Mendapatkan segala yang aku harap.

Entah aku menyukainya, mungkin ia akan menjadi satu prinsip terbaikku.

"Apa yang kita harapkan tidak selamanya harus terjadi dan tidak selamanya harus benar untuk diri kita".

Ucapkan ‘selamat’ untuk aku bukan karena aku yang berhasil memiliki segala atas  harapan, bukan karena aku yang beruntung. Ucapkan ‘selamat’ untuk aku karena aku mendapatkan lebih dari yang aku pikir dan aku bayangkan. Satu bingkisan terkirim dan diterima olehku secara rapi dan apik. Bingkisan yang tak pernah kulihat atau kupesan nyatanya. Namun, segala rupanya sangat menarik, segala isinya sangat menawan. Secarik kertas ragam sifat tepat ditanganku, sedang kubaca, kupahami.

Pusat intinya sangat rumit, mungkin. Mempelajari dan terus mempelajarinya tak mematahkan aku untuk menjaganya agar tetap utuh seperti sebelum aku mendapatkannya. Bukankah itu suatu keharusan yang bersifat konsekuensi?

Menjaga yang kupikir tak mungkin ternyata mungkin untukku. Lagi-lagi aku disentak oleh suatu kalimat tajam yang menegaskan bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Aku mengerti. Menjaga sesuatu yang ternyata sangat berharga memang tidak mudah namun mungkin dan sangat mungkin. Menjaga sesuatu yang ternyata sangat berarti yang mungkin orang inginkan dan pada nyatanya akulah yang menang. Bersyukurlah.

Banyak yang bertanya, kebenaran dari apa yang aku dapat, kebenaran dari apa yang sangat aku khawatirkan, kebenaran dari apa yang aku jalani kini, segala kebenaran yang ada. Perlukah? Ataukah aku yang berfikir terlalu jauh sehingga alam khayal terus mendesak agar aku tetap terbang jauh dan tak henti berangan-angan yang semu? KAMU.

Segala sesuatu yang kini ada dihadapanku tepat seseorang yang membaca dengan tatapan menerka-nerka dan tentu yang pertama kuberi link jendela halaman nan berantakan tak tertata ini. Satu kata ‘kamu’ telah mewakili segala omong tak beralur ini. Jawaban atas segala kebenaran-kebenaran itu dan aku menumpukan segala rasa pada satu bingkisan elok yang kuterima. KAMU.

"Memiliki apa yang telah kita miliki akan menjadi suatu kewajiban untuk menjaganya agar tetap utuh seperti sebelum kita memilikinya."

Kamu, Ed.

Seketika segalanya berubah. Ke-segala-an ini yang merubah keadaan Aku, Kamu dan Kita. Awal yang indah, begitupun harapan untuk penghujungnya.

Percaya atau tidak, semua cerita berproses ini memiliki alur yang tidak dapat ditebak bagaimana dan apa. Bagaimana cara ia mengalir dan apa jenis alurnya. Begitu pula dengan akhir cerita. Ketidakmampuan ini yang dianggap sangat wajar. Terdapat segala bentuk kebahagiaan atau pun antagonisnya. Seluruh paket ini telah dikemas dan dipersiapkan untuk insan yang tepat dan yang hanya dapat memilih secara cermat. Sekali membuat kesalahan dalam memilih, jatuhlah kamu. Gugur dan harus memilih paket baru.

Mungkin aku. Tidak beruntung dan belum terlalu pintar untuk memandang suatu kebahagiaan di akhir. Gegabah dan mudah untuk dipengaruhi. Belum mampu memilih dan belum siap untuk memilih. Akan tetapi aku percaya bahwa apa yang aku pilih saat ini merupakan satu paket yang kuanggap benar dari sekian paket yang gagal. Gugur. Hilang. Lepas.

Perjalanan yang tidak pernah ku ketahui bagaimana ujungnya sedang aku lalui. Aku telusuri dengan penuh kehati-hatian, tetap berjalan walau aku tahu akan ada jurang terjal, kaktus nan tajam, hutan ranting berduri atau pun ribuan singa yang siap menyantap. Takut, memang benar ada. Namun apa boleh buat, siapa yang akan menuntunku untuk menunjukkan jalan yang aman?

Bertemu seseorang yang akan aku jadikan sebagai ksatria selalu ku harapkan di setiap langkah dalam menyusuri lorong gelap yang bahkan aku sendiri tak mampu melihat dinding pembatasnya.

Aku sadar, beberapa ksatria terdahulu yang mengantar aku untuk melewati lorong ini menyampaikan hal yang asing untuk aku dengar. Mereka tidak satu atau dua. Mereka ku anggap banyak. Mereka ksatria yang aku cari dan mampu aku temukan. “Begitu beruntungnya aku”, ucap secara bisik dalam batin yang meringis ketakutan, dalam hati, cukup.

Dan aku sadar, tidak semua yang kuharap menjadi benar untuk aku. Sebagian menggugurkan dirinya dan kugugurkan. Mungkin bukan mereka yang tepat. Memberi arah yang salah untuk aku lalui, memberi aku air beracun untuk membinasakan dahaga, membiarkan aku berjalan diatas serpihan duri, mungkin. Entahlah. Bahkan aku pun masih bisa menyebut mereka sebagai ksatria.

"Jika segalanya terasa benar, ia-lah yang akan menuntunmu menuju lorong yang lain"

Segala renungan ini membuatku terbangun dari dunia angan-angan yang mungkin akan menahanku didalamnya dan segala renungan ini membuat aku berhasil menemukan seseorang yang terasa benar. Seseorang yang terasa dekat.

Jika segalanya terasa benar, ia-lah yang akan menuntunmu menuju lorong yang lain.

Ya, saat ini aku merasa segalanya benar, dan ia-lah yang mungkin akan menuntunku menuju lorong yang lain.

-Walau paketnya masih menyembunyikan alur selanjutnya dan akhir perjalanan ini-

Hey! I jst met you :$

Mungkin akan lebih baik jika aku menyebutnya ”Sabtu Malam”. Asing, sedikit. Namun tentu ini lebih enak untuk didengar. Jika aku bisa menambahkan, akan terselip kata gloomy yang artinya diketahui oleh seluruh manusia berambut pirang san mendiami suatu wilayah di daerah barat sana. Diperjelas lagilah ia berarti kelabu.

Sabtu-Malam-Kelabu. Menurut sebagian orang ini dibenarkan dan menurut sebagian lainnta tidak. Ini konyol bukan? Kedua kalinya aku melontarkan kata Sabtu-Malam-Kelabu pada Sabtu yang berbeda. Termasuk Sabtu yang sedang mencoba menggerogoti seluruh isi pikiranku dengan hal yang tidak seharusnya aku pikirkan saat ini. 

Rupanya kamu sedang senang, ya? Aku memperhatikanmu dari jauh. Bukan berarti hubungan jarak jauh menjadi satu alasan untuk kita tidak bisa saling pantau, bukan? Dan aku telah melakukannya hari ini. Melalui cara apapun. Melalui media apapun. Aku lihat kamu, dari sini.

Konsekuensinya, terkadang aku dipaksa untuk tersenyum dan tertawa oleh zat entah apa itu namanya dan terkadang aku dipaksa untuk menangis oleh zat yang sama. Aku dipaksa untuk mengubah mood-ku secara tiba-tiba, aku dipaksa untuk bersikap egois seolah-olah menunjukkan ”ini bukan sosok yang kamu kenal”, bersikap menyebalkan tentunya.

Beruntunglah untuk orang yang kamu tuju dalam satu baris tweet-mu yang kamu publikasikan. Entah siapa saja yang kamu temui aku tidak terlalu peduli meskipun itu hanya kiasanmu. Aku hanya iri. Total iri. Jelaslah perasaan yang mengandung dosa ini tertuju untuk orang yang berhasil kamu temui. Ini tidak adil. Aku yang rindu kamu. Aku yang hampir selalu menangis ketika mendengar seseorang bertanya mengenaimu karena pada kenyataannya aku pun tidak terlalu mengetahui seperti apa kamu disana. Aku yang merasakan semua perasaan kacau yang kamu tumpuk untuk aku nikmati dan berujung “Dia”-lah orang yang beruntung yang bisa melihatmu dari jarak dekat. Ini diluar konteks keluargamu tentunya.

Sulit sekali meyakinkan untuk aku tidak akan meneteskan sekecil apapun bentuk air mata yang aku punya. Sebegininya aku merindukan sosok kamu dan mungkin sedikit terabaikan oleh kamu.

Pada waktu yang bersamaan ketika aku membaca satu deret kalimat yang tertera pada jendela jejaring sosial milikmu, aku berfikir..

"apakah kamu akan menulis hal yang sama ketika kamu menemuiku?"

Ini malam minggu bukan? Entah ini malam minggu ke berapa untuk aku kembali merencanakan sesuatu yang jelas tidak bisa dijadikan nyata. Susah tentu. Bodoh pasti.

Hm. Semalam aku berhasil melihatmu datang dengan diri kamu yang utuh dan persis seperti waktu sebelum kamu menghilang dari posisimu yang terduduk dan berucap “iya, hati-hati ya” dan tentu kalimat yang kamu lontarkan itu untukku. Aku melihatmu berdiri tersenyum, kamu terlihat sangat senang dan aku menangis. Sudah pasti bukan? Aku senang, terlampau senang. Kamu turun dari mobil barumu yang berwarna merah, berlari kecil menghampiri pintu yang selalu terbuka lebar untuk pria yang aku sebut kamu.

"Kamu pulang!" seru seorang wanita yang selalu menunggu, berkhayal dan melakukan aktivitas bodoh lainnya.

"Iya, ini kejutan untuk kamu."

Ya Tuhan! Apa ini? Dia bisa membalas apa yang aku utarakan. Sudah lama aku tidak melihat mata yang begitu tajam dilengkapi dengan bingkai kacamata yang menurutku aneh. Sudah lama aku tidak mendengar suara yang begitu mirip dengan suara anak kecil dilengkapi dengan tawa kecilnya. Dan sudah lama aku tidak melihat sosoknya yang jauh berbeda dari pria lain diluar sana.

"Aku harus pergi."

Apa yang kamu bilang? Katakan kalau aku salah dengar! Mana mungkin aku baru melihatmu lagi dan aku diberi suatu kenyataan kalau kamu harus pergi lagi. Secepat itukah? Senyum kamu yang menyertai kalimat terakhir itu membuat aku yakin kalau kalimat itu benar. Dan ia meyakinkan aku untuk mengijinkan kamu pergi, lagi. Pergi ke suatu provinsi lain yang begitu jauh, sangat jauh. Dan entah kapan lagi aku bisa melihat kamu seperti ini.

Dengan aku melambai ke arah mobilmu yang semakin menjauh, sontak aku terbangun. Ya, itu mimpi. Entah katagori mimpi seperti apa ini. Aku sakit. Aku senang. Aku sedih. Aku berharap…

Semoga apa yang aku impikan semalam menjadi nyata untukku. Sebentar pun tak masalah, untuk melihat sosok pria yang selalu jadi korban perinduan wanita konyol seperti aku.

Did you forget something huh?

Every single night my tears fall ‘cause I don’t know how to talk with you. When you have a time, I haven’t. When I have a time, you haven’t. This is crazy and so sick. Goodnight honey. Wish we can be better tomorrow, in our 21st month. Lvu of course.