Mungkin akan lebih baik jika aku menyebutnya ”Sabtu Malam”. Asing, sedikit. Namun tentu ini lebih enak untuk didengar. Jika aku bisa menambahkan, akan terselip kata gloomy yang artinya diketahui oleh seluruh manusia berambut pirang san mendiami suatu wilayah di daerah barat sana. Diperjelas lagilah ia berarti kelabu.
Sabtu-Malam-Kelabu. Menurut sebagian orang ini dibenarkan dan menurut sebagian lainnta tidak. Ini konyol bukan? Kedua kalinya aku melontarkan kata Sabtu-Malam-Kelabu pada Sabtu yang berbeda. Termasuk Sabtu yang sedang mencoba menggerogoti seluruh isi pikiranku dengan hal yang tidak seharusnya aku pikirkan saat ini.
Rupanya kamu sedang senang, ya? Aku memperhatikanmu dari jauh. Bukan berarti hubungan jarak jauh menjadi satu alasan untuk kita tidak bisa saling pantau, bukan? Dan aku telah melakukannya hari ini. Melalui cara apapun. Melalui media apapun. Aku lihat kamu, dari sini.
Konsekuensinya, terkadang aku dipaksa untuk tersenyum dan tertawa oleh zat entah apa itu namanya dan terkadang aku dipaksa untuk menangis oleh zat yang sama. Aku dipaksa untuk mengubah mood-ku secara tiba-tiba, aku dipaksa untuk bersikap egois seolah-olah menunjukkan ”ini bukan sosok yang kamu kenal”, bersikap menyebalkan tentunya.
Beruntunglah untuk orang yang kamu tuju dalam satu baris tweet-mu yang kamu publikasikan. Entah siapa saja yang kamu temui aku tidak terlalu peduli meskipun itu hanya kiasanmu. Aku hanya iri. Total iri. Jelaslah perasaan yang mengandung dosa ini tertuju untuk orang yang berhasil kamu temui. Ini tidak adil. Aku yang rindu kamu. Aku yang hampir selalu menangis ketika mendengar seseorang bertanya mengenaimu karena pada kenyataannya aku pun tidak terlalu mengetahui seperti apa kamu disana. Aku yang merasakan semua perasaan kacau yang kamu tumpuk untuk aku nikmati dan berujung “Dia”-lah orang yang beruntung yang bisa melihatmu dari jarak dekat. Ini diluar konteks keluargamu tentunya.
Sulit sekali meyakinkan untuk aku tidak akan meneteskan sekecil apapun bentuk air mata yang aku punya. Sebegininya aku merindukan sosok kamu dan mungkin sedikit terabaikan oleh kamu.
Pada waktu yang bersamaan ketika aku membaca satu deret kalimat yang tertera pada jendela jejaring sosial milikmu, aku berfikir..
“apakah kamu akan menulis hal yang sama ketika kamu menemuiku?”
Ini malam minggu bukan? Entah ini malam minggu ke berapa untuk aku kembali merencanakan sesuatu yang jelas tidak bisa dijadikan nyata. Susah tentu. Bodoh pasti.
Hm. Semalam aku berhasil melihatmu datang dengan diri kamu yang utuh dan persis seperti waktu sebelum kamu menghilang dari posisimu yang terduduk dan berucap “iya, hati-hati ya” dan tentu kalimat yang kamu lontarkan itu untukku. Aku melihatmu berdiri tersenyum, kamu terlihat sangat senang dan aku menangis. Sudah pasti bukan? Aku senang, terlampau senang. Kamu turun dari mobil barumu yang berwarna merah, berlari kecil menghampiri pintu yang selalu terbuka lebar untuk pria yang aku sebut kamu.
“Kamu pulang!” seru seorang wanita yang selalu menunggu, berkhayal dan melakukan aktivitas bodoh lainnya.
“Iya, ini kejutan untuk kamu.”
Ya Tuhan! Apa ini? Dia bisa membalas apa yang aku utarakan. Sudah lama aku tidak melihat mata yang begitu tajam dilengkapi dengan bingkai kacamata yang menurutku aneh. Sudah lama aku tidak mendengar suara yang begitu mirip dengan suara anak kecil dilengkapi dengan tawa kecilnya. Dan sudah lama aku tidak melihat sosoknya yang jauh berbeda dari pria lain diluar sana.
“Aku harus pergi.”
Apa yang kamu bilang? Katakan kalau aku salah dengar! Mana mungkin aku baru melihatmu lagi dan aku diberi suatu kenyataan kalau kamu harus pergi lagi. Secepat itukah? Senyum kamu yang menyertai kalimat terakhir itu membuat aku yakin kalau kalimat itu benar. Dan ia meyakinkan aku untuk mengijinkan kamu pergi, lagi. Pergi ke suatu provinsi lain yang begitu jauh, sangat jauh. Dan entah kapan lagi aku bisa melihat kamu seperti ini.
Dengan aku melambai ke arah mobilmu yang semakin menjauh, sontak aku terbangun. Ya, itu mimpi. Entah katagori mimpi seperti apa ini. Aku sakit. Aku senang. Aku sedih. Aku berharap…
Semoga apa yang aku impikan semalam menjadi nyata untukku. Sebentar pun tak masalah, untuk melihat sosok pria yang selalu jadi korban perinduan wanita konyol seperti aku.